Seorang da’i dituntut untuk menjadi penyampai kebenaran dengan didasari ilmu serta cara yang bijak dan penuh hikmah. Dalam menjalankan perannya, merdeka dalam berfikir dan bertindak menjadi penting agar dakwahnya tetap segar, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman. Namun, kebebasan berpikir seorang da’i harus tetap berada dalam koridor Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Merdeka bagi seorang da’i berarti memiliki keberanian untuk menggali metode baru, pendekatan kreatif, dan strategi yang sesuai dengan konteks masyarakat luas. Ia berusaha agar dakwahnya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tidak hanya berfokus pada kelompok atau komunitas tertentu saja. Ia tidak kaku dalam menyampaikan dakwah, tetapi juga tidak melanggar prinsip-prinsip syariat. Kebebasan berpikirnya diarahkan untuk memperkuat pesan dakwah, bukan menyimpang dari ajaran Islam.
Seorang da’i yang benar-benar merdeka tidak takut keluar dari zona nyaman yang dipaksakan oleh komunitas tertentu selama tidak melanggar syariat. Ia juga tidak takut untuk berbeda dengan selera masyarakat selama ia yakin dengan kebenaran dan metode yang ia sampaikan.
Dengan berpikir bebas namun terarah, seorang da’i akan mampu menampilkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat dan kebaikan bagi semua. Ia menjadi sosok yang terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap teguh dalam kebenaran wahyu. Inilah ciri da’i ideal: kreatif dalam metode, namun kokoh dalam prinsip.
Cileungsi, 10 November 2025
Dr. Cecep Rahmat., Lc., M.Ag
(Da’i Standardisasi MUI Pusat, anggota komisi dakwah MUI kecamatan Cileungsi Bogor)



